GUNUNG LAWU TEMPO DULU

Goenoeng Lawoe atau gunung Lawu ejaan sekarang menurut EYD adalah gunung di wilayah dua propinsi, yakni propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seperti yang kita tahu, gunung ada sejak jaman kita manusia sekarang belum lahir, begitu juga Lawu ada sejak tempo doeloe dan telah banyak mengalami perubahan. Ini untuk mengenang Lawu saat silam, dan tempat - tempat yang akrab bagi pendaki Lawu masa sekarang dan masa lalu.

Gunung Lawu memiliki tiga Kawah, yakni dua kawah tua di sebelah utara yang biasa di sebut Telaga Kuning dan Telaga Lembung Selayur, dan kawah muda yang masih aktif di sebelah selatan yang di sebut Kawah Condrodimuko. Letusan terakhir gunung Lawu yang sempat tercatat terjadi pada tahun 1885, terjadi gemuruh dan hujan abu ringan. Kawah Condrodimuko berada di sebelah selatan gunung Lawu membentuk aliran sungai yang memisahkan antara propinsi Jawa Tengah dan propinsi Jawa Timur.

Kawah ini menyebarkan bau belerang yang cukup menyengat terutama di pagi hari. Pada bulan desember tahun 1978 terjadi gempa di gunung Lawu, dan pada bulan mei tahun 1979 pergerakan magma di dalam perut gunung Lawu, mengakibatkan gempa yang tercatat hingga 1000 kali dalam satu hari, dan yang dapat dirasakan getarannya 50 kali dalam 1 hari. Namun tidak terjadi perubahan alam maupun letusan gunung.

Tugu di puncak gunung Lawu kini sudah sering dibangun, diganti dengan yang baru, salah satu penyebabnya adalah roboh karena gempa.Ketika itu Argodalem juga belum dibangun masih, berupa gubuk dari seng seperti foto jaman Belanda di bawah ini. Berikut foto - foto gunung Lawu pada jaman Belanda tahun 1910, dari koleksi TropenMuseum Belanda.
GUNUNG LAWU TEMPO DULU

Pesona Gunung Lawu sejak jaman Belanda sudah sering dinikmati bule - bule, dengan banyaknya vila - vila di Telaga Sarangan dan Tawangmangu. Gunung Lawu dilihat dari telaga Sarangan, yang terletak di sebelah timur gunung Lawu, kelihatan sangat menawan.
Kawah Condrodimuko

Kawah Condrodimuko, kawah Gunung Lawu pada tahun 1930. Sebelum tahun 60 - an untuk mendaki gunung Lawu jalurnya melewati kawah Condrodimuko ini. Namun karena jalur ini longsor maka jalur pendakian telah berubah menjadi seperti sekarang ini. Kawah ini di pagi hari baunya sangat menyengat, letak kawah ini di dekat Pos 3 jalur Cemoro Sewu. Bila mendaki gunung Lawu lewat Cemoro Sewu mulai dari Pos 2 hingga Pos 3 kita akan mencium bau belerang.
pondok Argodalem

Inilah pondok Argodalem pada tahun 1930. Kalau diperhatikan coretan pada dinding pondok bertuliskan “Toko LIEM Sarangan” menunjukan bahwa pada waktu itu sudah menjadi tradisi masyarakat sekitar Lawu untuk mendaki gunung Lawu terutama pada bulan Suro.

Vegetasi di puncak Lawu pada tahun 1912 masih nampak sangat lebat. Edelweis tumbuh diantara pepohonan yang lain.
bunga edelweis gunung lawu

Kawah tua  Telaga Kuning di puncak gunung Lawu tahun 1910 – pada musim hujan kawah telaga kuning ini berisi air, sehingga membentuk telaga. Dahulu para peziarah melakukan ritual dengan mancelupkan badan ke dalam telaga, bila seluruh tubuhnya berhasil masuk ke dalam telaga maka, keinginannya akan terkabul. Memang agak susah berhubung air telaga tidak terlalu dalam, bahkan sering kali kering.

Inilah puncak Lawu pada tahun 1930. Para bule - bule eropa ini berfoto bersama di puncak Lawu pada tahun 1930.

Memang sejak ratusan tahun yang lalu gunung Lawu sudah sering di daki oleh para peziarah - peziarah Hindu. Di kaki gunung Lawu pun banyak terdapat candi - candi Hindu peninggalan jaman Majapahit
Di kutip dari :http://www.belantaraindonesia.org

BAGIKAN KE

Facebook Google+ Twitter Digg

Artikel Terkait

Comments
24 Comments

24 Responses to "GUNUNG LAWU TEMPO DULU"

  1. wahhh,, itu tempo dulu banget dahh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas dayat... tai sekarang masih bagus kok wisata puncak lawu nya..

      Hapus
    2. wahhh iya tuh, harus di lestarikan situs tempo dulunya :))

      Hapus
    3. siap laksanakan... hehehe... semangat 45 ndan

      Hapus
  2. Balasan
    1. makasih mas candra... yah semoga saja kami selaku warga magetan bisa melestarikan wisata alam yg sangat indah ini..

      Hapus
  3. memang jdul banget nih
    liat aja tuh kaos kaki, sperti akan maen bola.. heheh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..betul banget sobat,, tuh foto dokumentasi dari tahun 1930 makanya terlihat jadoel ,sesuai dg judulnya...

      Hapus
  4. Balasan
    1. makasih sobat.... selamat datang di blog MAGETAN INDAH

      Hapus
  5. maaf Sob slh tmp buat komen. link Sobat udah saya pasang d blog saya, kl ada yg slh tllng d ksh tau sob. oiya sekalian follow blog biar tambah akrab...:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. okey sobat.. TERIMA KASIH.. Indahnya saling berbagi

      Hapus
  6. . . wachhhhhhhhhhhhh,, aq gak pernah kesana . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... ya kalo ada waktu silahkan berkunjung mbak.. saya siap jadi guide nya.. :)

      Hapus
    2. ya gratislah sobat... Aku tuggu yah.. hehehe.. :)

      Hapus
    3. . . skalian di jemput donk. wha. . ha. . ha. . ha. . ha. . ha. . ngarep banget . .

      Hapus
  7. Tempatnya indah sekali, walau gambarnya hitam putih tapi tidak mengurangi rasa eloknya. Apalagi saya belum pernah sama sekali kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang malah lebih indah kok mas... tapi hutannya tak selebat dulu.Tapi tiap hari ada aja wisatawan yang meuju puncak lawu.

      Hapus
  8. oke gan terima kasih atas kunjunganya

    BalasHapus
  9. @Harun Ar:coba ke telaga sarangan mas.. dekat aja kok tempatnya.

    BalasHapus
  10. Informatif banget izin berbagi ya mari kita ekplorasi terus kekayaan wisata Magetan

    BalasHapus
  11. @massugiwlsi:monggo mas, terima kasih atas supportnya

    BalasHapus

1.Tinggalkan Komentar Sobat di Blog ini.
2.Kritik dan saran dari sobat kami terima dg senang hati.
3.Komentar Sobat adalah sebuah PENGHARGAAN dan SILATURAHMI buat blog ini.
--- TERIMA KASIH DAN SALAM SUKSES BUAT ANDA ---

SITE INFO

Google+ Followers